Sebelum menelaah mengenai itu, ada baiknya kita melihat kejadian yang terjadi beberapa saat lalu di Purwakarta. Terjadi Perusakan patung wayang di sana. Kejadian ini bermula dari pembangunan patung-patung wayang yang menyimbolkan ciri khas kota tersebut. Patung-patung tersebut dianggap sebagai berhala yang dapat mengganggu keimanan warga. Perobohan tersebut menggunakan dalih agama yang bertujuan untuk menjauhkan masyarakat dari kesesatan atau penyembahan berhala.
Patung-patung yang dirobohkan antara lain adalah patung tokoh perwayangan, antara lain Gatot Kaca, Bima, dan Semar. Patung Nakula Sadewa berhasil diselamatan. Wayang golek adalah salah satu warisan budaya bangsa, dan pendirian patung-patung tersebut merupakan salah satu upaya untuk memelihara warisan budaya yang telah ada sejak jaman dahulu. Sepanjang sejarah pewayangan, tidak ada satu wayang pun yang dipuja dan disembah sedemikian rupa sebagai berhala atau hal-hal klenik yang dipercaya akan mendatangkan keberuntungan bagi pemiliknya
Penggunaan wayang sebagai simbol suatu daerah tidak terlepas dari cara tutur wayang untuk mengkomunikasikan pandangannya. Cara tutur ini dipilih untuk mencapai massa sederhana maupun kalangan generasi muda. Karena di dalam tradisi wayang, tokoh-tokoh menjadi sentral dalam adegan kehidupan dan dapat digunakan sebagai model perjalanan pencarian identitas orang Indonesia dari olahan tradisi masa lalu menuju ke masa depan. Pemilihan tokoh oleh pemerintah Purwakarta didasari oleh pemikiran di atas, sebagai contoh tokoh Semar yang dikenal bijaksana dalam menjalani hidup.
Mengamati fenomena seperti diatas yang membawa nama agama, sepertinya kita perlu kembali membahas mengenai kebudayaan. Menurut Sutan Takdir Alisyahbana, kebudayaan adalah manifestasi dari cara berpikir sehingga menurutnya pola kebudayaan itu sangat luas sebab semua laku dan perbuatan tercakup di dalamnya dan dapat diungkapkan pada basis dan cara berpikir termasuk di dalamnya perasaan karena perasaan juga merupakan maksud dari pikiran.
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Menurut E.B Taylor kebudayaan merupakan keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hokum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat, sedangkan menurut Ashley Montagu, kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya. Kebutuhan hidup manusia dikelompokkan menjadi lima kelompok oleh Maslow, yakni fisiologi, rasa aman, afiliasi, harga diri dan pengembangan potensi. Didalam memenui kebutuhan hidupnya, manusia tidak bersifat instinktif tetapi semuanya berasal dari sebuah proses dari kemampuannya untuk belajar yang nantinya memperoleh ilmu untuk diturunkan kepada generasi berikutnya. Ilmu Dalam kamus besar Bahasa Indonesia memiliki arti pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Menurut Suriasumantri (2001:3) Ilmu merupakan salah satu buah pemikirian manusia dalam menjawab pertanyaan. Sementara itu, Paul Freedman dalam The Principles of Scientific Research mendefinisikan ilmu sebagai bentuk aktivitas manusia yang dengan melakukannya umat manusia memperoleh suatu pengetahuan dan senantiasa lebih lengkap dan cermat tentang alam di masa lampau, sekarang dan kemudian hari, serta suatu kemampuan untuk menyesuaikan dirinya dan mengubah lingkungannya serta mengubah sifat-sifatnya sendiri. Kesimpulan yang dapat diambil dari adanya beberapa pengertian ilmu di atas bahwa ilmu merupakan pengetahuan dari hasil pemikiran manusia yang nantinya dengan pemikiran tersebut akan membantu manusia di dalam proses kehidupannya.
Dengan ilmu yang diperoleh manusia yang tentunya dari hasil belajar akan menghasilkan sebuah kemampuan dalam menilai objek dan kejadian, yang pada akhirnya kemampuan menilai ini akan mendukung terciptanya sebuah kebudayaan yag bersifat turun-temurun. Jadi, antara ilmu dan kebudayaan memiliki hubungan yang begitu erat. Dengan ilmu manusia mampu mengetahui kebudayaan yang awalnya berupa sesuatu yang abstrak, mewujudkannya dalam bentuk prilaku, hasil karya. Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan adalah unsur dari kebudayaan. Dapat disimpulkan bahwa ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dengan sendirinya juga merupakan salah satu unsur kebudayaan (Endang Daruni Asdi, 1991). Perkembangan ilmu tergantung dari perkembangan kebudayaan, sedangkan perkembangan ilmu dapat memberikan pengaruh pada kebudayaan. Keadaan social dan kebudayaan, saling bergantung dan saling mendukung. Disini ilmu mempunyai peran ganda, yakni :
1. Ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung pengembangan kebudayaan
2. Ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak bangs
Generasi dalam suatu kelompok masyarakat haruslah pandai-pandai di dalam mengembangkan suatu kebudayaan, memilih kebudayaan mana saja yang harus dikembangkan dan yang dihilangkan. Namun, pada hakikatnya kebudayaan yang bersumber dari nilai-nilai ilahiah akan membantu manusia untuk meletakkan kebudayaan pada makna dan aplikasi yang benar.
Dalam rangka memilih nilai-nilai budaya yang akan dikembangkan oleh manusia dari generasi ke generasi ini, Allport, Vernon dan Lindzey (1951) mengidentifikasikan enam nilai dasar dalam kebudayaan yakni, nilai teori, ekonomi, estetika, sosial, politik dan agama, dari penggolongan ini, maka masalah pertama yang dihadapi oleh pendidikan ialah menetapkan nilai-nilai budaya apa saja yang harus dikembangkan dalam diri anak kita.
Untuk menentukan nilai-nilai mana yang patut mendapat perhatian kita sekarang ini maka pertama sekali kita harus dapat memperkirakan skenario dari masyarakat kita dimasa yang akan datang. Skenario masyarakat Indonesia di masa yang akan datng tersebut memperhatikan indikator dan perkembangan yang sekarang ada, cenderung untuk mempunyai karakteristik-karakteristik seperti berikut:
a. Memperhatikan tujuan dan strategi pembangunan nasional kita, maka masyarakat Indonesia akan beralih dari masyarakat tradisional yang plural agraris menjadi masyarakat modern yang urban dan bersifat industry.
b. Pengembangan kebudayaan kita ditujukan kearah perwujudan peradaban yang bersifat khas berdasarkan filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia yakni Pancasila
Unsur-unsur kebudayaan seperti bahasa, kesenian, agama dan adat istiadat dari pelbagai suku bangsa di dalam wilayah nusantara hendaknya dilestarikan dan diangkat menjadi unsur-unsur kebudayaan nasional. Menurut Prof. Nugroho Notosusanto, kebudayaan nasional adalah kebudayaan daerah dan kebudayaan kesatuan. Rumusan lainnya kebudayaan nasional adalah paduan seluruh lapisan kebudayaan bangsa Indonesia, yang mencerminkan semua aspek perikehidupan bangsa. Selain itu kebudayaan nasioanl dapat juga dikatan sebagai totalitas berdasarkan aspek kerohanian bangsa dan segala sesuatu yang dihasilkan oleh manusia Indonesia sekarang. Dengan kata lain kebudayaan nasional adalah kepribadian manusia Indonesia dalam wujudnya berupa pandangan hisup, cara berpikir dan sikap terhadap pelbagai aspek kehidupan bangsa. Melihat definisi ini, dapat kita simpulkan bahwa kejadian perusakan patung di Purwakarta yang telah dijelaskan sebelumnya, terjadi hanya karena ada masalah politik yang dilapisi oleh masalah agama. Karena pada dasarnya penggunaan unsur kebudayaan, dalam hal ini wayang sudah digunakan para wali dalam penyebaran agama Islam. Selama penggunaan hanya sebatas sebagai media penyebaran agama bukan untuk disembah.
Pembangunan patung wayang di Purwakarta maupun di daerah lain sebenarnya merupakan perwujudan pelestarian budaya dang pengembangan kebudayaan nasional.