Rabu, 15 Februari 2012

Perempuan dan Televisi

Membaca sebuah tulisan yang berjudul “Perempuan dalam Tayangan Televisi “ oleh Titiana Andinda membuat saya berpikir ulang mengenai posisi perempuan dalam televisi. Konsep perempuan dan televisi merujuk pada kenyataan sosial yang dibuat oleh manusia yang dalam hal ini laki-laki yang mengkonstruksinya dan perempuan yang menjadi objeknya. Ketika perempuan dikonstruksikan untuk hidup sesuai dengan kehendak dan penilaian masyarakat, televisi kemudian ikut menyajikan realitas sosial masyarakat. Hal ini terlihat di banyak sinetron yang menggambarkan wajah perempuan sebagai bagian yang tertindas.
Televisi kemudian memberikan tayangan-tayangan tentanng bagaimana seorang perempuan harus berperan, berposisi dan berperilaku. Televisi mulai melakukan penilaian, mulai dari cara berdandan, berpenampilan hingga norma-norma atau nilai-nilai yang wajib menjadi bagian dari tampilnya perempuan. Televisi digunakan oleh penguasa sebagai alat kontrol terhadap masyarakat, khususnya perempuan, khususnya tubuh perempuan.
Tubuh perempuan seolah dikendalikan oleh televisi dan bagaimana masyarakat laki-laki memandang dan mempersepsikannya. Sebagai akibatnya, perempuan diposisikan menjadi orang yang tak percaya diri dan mengalami krisis kepercayaan.  Televisi adalah media yang menyadari dan memahami adanya persoalan ini. Bukannya memberikan solusi justru televisi menawarkan mimpi-mimpi baru menjadi perempuan idaman yang diinginkan oleh masyarakat yang kemudian melahirkan stereotype perempuan yang sempurna.
Angela Mc Robbie, seorang professor Komunikasi di Goldsmiths, University of London, dan juga dikenal sebagai pakar budaya pop, menyatakan bahwa industri telah menjadikan perempuan sebagai objek, dari baju yang ‘pantas dan layak’ dikenakan perempuan, hingga industri lain seperti sepatu, tas, aksesories, kalu dan lainnya. Baju dan semua aksesories memang merupakan isu yang dibawa industri untuk menjadikan perempuan sebagai korban dari sebuah peradaban industri modern. Hingga bukanlah berlebihan jika kemudian kita berpendapat bahwa tubuh perempuan akhirnya menjadi sumber penindasan bagi pemiliknya. Televisi diharapkan sebagai media yang bisa menjadikan institusi pembebasan dan pendidikan untuk masyarakat, terutamanya perempuan.


Referensi:

Luviana. 2011. Perempuan dan Cerita (Kuasa) Televisi.  Jakarta: Jurnal Perempuan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar