Membaca sebuah tulisan yang berjudul “Perempuan dalam
Tayangan Televisi “ oleh Titiana Andinda membuat saya berpikir ulang mengenai
posisi perempuan dalam televisi. Konsep perempuan dan televisi merujuk pada
kenyataan sosial yang dibuat oleh manusia yang dalam hal ini laki-laki yang
mengkonstruksinya dan perempuan yang menjadi objeknya. Ketika perempuan
dikonstruksikan untuk hidup sesuai dengan kehendak dan penilaian masyarakat,
televisi kemudian ikut menyajikan realitas sosial masyarakat. Hal ini terlihat
di banyak sinetron yang menggambarkan wajah perempuan sebagai bagian yang
tertindas.
Televisi kemudian memberikan tayangan-tayangan tentanng
bagaimana seorang perempuan harus berperan, berposisi dan berperilaku. Televisi
mulai melakukan penilaian, mulai dari cara berdandan, berpenampilan hingga
norma-norma atau nilai-nilai yang wajib menjadi bagian dari tampilnya
perempuan. Televisi digunakan oleh penguasa sebagai alat kontrol terhadap
masyarakat, khususnya perempuan, khususnya tubuh perempuan.
Tubuh perempuan seolah dikendalikan oleh televisi dan
bagaimana masyarakat laki-laki memandang dan mempersepsikannya. Sebagai
akibatnya, perempuan diposisikan menjadi orang yang tak percaya diri dan
mengalami krisis kepercayaan. Televisi adalah
media yang menyadari dan memahami adanya persoalan ini. Bukannya memberikan
solusi justru televisi menawarkan mimpi-mimpi baru menjadi perempuan idaman
yang diinginkan oleh masyarakat yang kemudian melahirkan stereotype perempuan
yang sempurna.
Angela Mc Robbie, seorang professor Komunikasi di Goldsmiths,
University of London, dan juga dikenal sebagai pakar budaya pop, menyatakan
bahwa industri telah menjadikan perempuan sebagai objek, dari baju yang ‘pantas
dan layak’ dikenakan perempuan, hingga industri lain seperti sepatu, tas,
aksesories, kalu dan lainnya. Baju dan semua aksesories memang merupakan isu
yang dibawa industri untuk menjadikan perempuan sebagai korban dari sebuah
peradaban industri modern. Hingga bukanlah berlebihan jika kemudian kita
berpendapat bahwa tubuh perempuan akhirnya menjadi sumber penindasan bagi
pemiliknya. Televisi diharapkan sebagai media yang bisa menjadikan institusi
pembebasan dan pendidikan untuk masyarakat, terutamanya perempuan.
Referensi:
Adinda,
Titiana. 2007. Perempuan dalam tayangan televisi.
http://www.ccde.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=3:perempuan-dalam-tayangan-televisi&catid=2:sorotan&Itemid=3
Luviana.
2011. Perempuan dan Cerita (Kuasa)
Televisi. Jakarta: Jurnal Perempuan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar