Kamis, 16 Februari 2012

Terima kasih untuk tetap bertahan dengan rindumu..
Tunggu aku pulang, tak sabar memelukmu..
Rinduku membakar dan birahiku menggebu
Kau tau apa yang ingin kulakukan saat nanti bertemu rupa?
Mencium air matamu saat kau menangis haru menyambutku di pagar rumahmu…
Berlebihan? Biarlah…
Bahkan untuk mempertahankan rindumu?
Baiklah, mungkin saatnya sekarang giliranku yang menangis dan merengek untuk meminta kamu untuk bertahan..
Kamu itu, ijinkan kupanggil kekasih……                                        

Februari 2012
Lebah Tengil

Rabu, 15 Februari 2012

Perempuan dan Televisi

Membaca sebuah tulisan yang berjudul “Perempuan dalam Tayangan Televisi “ oleh Titiana Andinda membuat saya berpikir ulang mengenai posisi perempuan dalam televisi. Konsep perempuan dan televisi merujuk pada kenyataan sosial yang dibuat oleh manusia yang dalam hal ini laki-laki yang mengkonstruksinya dan perempuan yang menjadi objeknya. Ketika perempuan dikonstruksikan untuk hidup sesuai dengan kehendak dan penilaian masyarakat, televisi kemudian ikut menyajikan realitas sosial masyarakat. Hal ini terlihat di banyak sinetron yang menggambarkan wajah perempuan sebagai bagian yang tertindas.
Televisi kemudian memberikan tayangan-tayangan tentanng bagaimana seorang perempuan harus berperan, berposisi dan berperilaku. Televisi mulai melakukan penilaian, mulai dari cara berdandan, berpenampilan hingga norma-norma atau nilai-nilai yang wajib menjadi bagian dari tampilnya perempuan. Televisi digunakan oleh penguasa sebagai alat kontrol terhadap masyarakat, khususnya perempuan, khususnya tubuh perempuan.
Tubuh perempuan seolah dikendalikan oleh televisi dan bagaimana masyarakat laki-laki memandang dan mempersepsikannya. Sebagai akibatnya, perempuan diposisikan menjadi orang yang tak percaya diri dan mengalami krisis kepercayaan.  Televisi adalah media yang menyadari dan memahami adanya persoalan ini. Bukannya memberikan solusi justru televisi menawarkan mimpi-mimpi baru menjadi perempuan idaman yang diinginkan oleh masyarakat yang kemudian melahirkan stereotype perempuan yang sempurna.
Angela Mc Robbie, seorang professor Komunikasi di Goldsmiths, University of London, dan juga dikenal sebagai pakar budaya pop, menyatakan bahwa industri telah menjadikan perempuan sebagai objek, dari baju yang ‘pantas dan layak’ dikenakan perempuan, hingga industri lain seperti sepatu, tas, aksesories, kalu dan lainnya. Baju dan semua aksesories memang merupakan isu yang dibawa industri untuk menjadikan perempuan sebagai korban dari sebuah peradaban industri modern. Hingga bukanlah berlebihan jika kemudian kita berpendapat bahwa tubuh perempuan akhirnya menjadi sumber penindasan bagi pemiliknya. Televisi diharapkan sebagai media yang bisa menjadikan institusi pembebasan dan pendidikan untuk masyarakat, terutamanya perempuan.


Referensi:

Luviana. 2011. Perempuan dan Cerita (Kuasa) Televisi.  Jakarta: Jurnal Perempuan

Minggu, 12 Februari 2012

Surat untuk Mama

Surat untuk Mama

Mamaku yang cantik aku sayang banget sama mama walaupun mama gendut tapi cantik. Mama juga suka marah-marah jadi jelek deh tapi paling-paling cantik sedunia sampe inggris juga bisa. yang penting cantik.

Dari Balqis yang cantik.

     Surat ini saya terima sehari sebelum saya memulai perkuliahan saya. Surat yang ditulis oleh anak kedua saya, Balqis Alisha yang berumur 7 tahun. Setiap hari saya memang menghabiskan waktu saya dengan dia dan kakaknya, bahkan saya mencari pekerjaan yang bisa disesuaikan dengan waktu mereka. Saat keputusan saya akan kuliah lagi membuat dia berpikir bahwa waktu saya akan berkurang banyak untuknya sehingga dia membuat surat yang bertujuan supaya saya selalu ingat dengan dia.
     Yang membuat saya terharu dan bangga adalah kreativitas dia dalam mengirim surat ini. dia menulis di kertas surat yang menjadi koleksi saya sejak saya masig kecil, ditulis tangan, dimasukan ke amplopnya dan diletakkan di atas bantal. Kata-katanya pun dia rangkai sendiri.
      Saya termasuk orang yang kurang kreatif tapi melihat kejadian surat dari Balqis saya langsung berpikir ternyata kreativitas itu bukan turunan, bisa dikembangkan asal ada stimulasi dari lingkungan karena pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat kreativitas dalam dirinya. Mengutip kalimat Selo Soemardjan, 1983, "Timbul dan tumbuhnya kreativitas dan selanjutnya berkembang suatu kreasi yang diciptakan oleh seseorang individu tidak dapat luput dari pengaruh kebudayaan serta pengaruh masyarakat tempat individu itu hidup dan bekerja". 
     Kebersamaan saya dengan anak-anak saya yang bisa menstimulus kreativitas mereka. Apalagi dengan Balqis, dia benar-benar merasakan ASI ekslusif dan menghabiskan waktunya lebih banyak dengan saya dibanding dengan orang lain. bahkan sampai sekarang, terkadang dia masih tidur dengan saya. Sehingga saat dia merasa waktu saya akan mulai berkurang dia memutuskan membuat sesuatu yang akan membuat saya untuk selalu ingin cepat pulang. Dan ternyata tujuan dia tercapai karena tujuan akhir saya selalu mereka.

Selasa, 31 Januari 2012

Filsafat dan Kebudayaan

Sebelum menelaah mengenai itu, ada baiknya kita melihat kejadian yang terjadi beberapa saat lalu di Purwakarta. Terjadi Perusakan patung wayang di sana.  Kejadian ini bermula dari pembangunan patung-patung wayang yang menyimbolkan ciri khas kota tersebut. Patung-patung tersebut dianggap sebagai berhala yang dapat mengganggu keimanan warga. Perobohan tersebut menggunakan dalih agama yang bertujuan untuk menjauhkan masyarakat dari kesesatan atau penyembahan berhala.
Patung-patung yang dirobohkan antara lain adalah patung tokoh perwayangan, antara lain Gatot Kaca, Bima, dan Semar. Patung Nakula Sadewa berhasil diselamatan. Wayang golek adalah salah satu warisan budaya bangsa, dan pendirian patung-patung tersebut merupakan salah satu upaya untuk memelihara warisan budaya yang telah ada sejak jaman dahulu. Sepanjang sejarah pewayangan, tidak ada satu wayang pun yang dipuja dan disembah sedemikian rupa sebagai berhala atau hal-hal klenik yang dipercaya akan mendatangkan keberuntungan bagi pemiliknya
Penggunaan wayang sebagai simbol suatu daerah tidak terlepas dari cara tutur wayang untuk mengkomunikasikan pandangannya. Cara tutur ini dipilih untuk mencapai massa sederhana maupun kalangan generasi muda. Karena di dalam tradisi wayang, tokoh-tokoh menjadi sentral dalam adegan kehidupan dan dapat digunakan sebagai model perjalanan pencarian identitas orang Indonesia dari olahan tradisi masa lalu menuju ke masa depan. Pemilihan tokoh oleh pemerintah Purwakarta didasari oleh pemikiran di atas, sebagai contoh tokoh Semar yang dikenal bijaksana dalam menjalani hidup.
Mengamati fenomena seperti diatas yang membawa nama agama, sepertinya kita perlu kembali membahas mengenai kebudayaan. Menurut Sutan Takdir Alisyahbana, kebudayaan adalah manifestasi dari cara berpikir sehingga menurutnya pola kebudayaan itu sangat luas sebab semua laku dan perbuatan tercakup di dalamnya dan dapat diungkapkan pada basis dan cara berpikir termasuk di dalamnya perasaan karena perasaan juga merupakan maksud dari pikiran.
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Menurut E.B Taylor kebudayaan merupakan keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hokum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat, sedangkan menurut Ashley Montagu, kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya.
            Kebutuhan hidup manusia dikelompokkan menjadi lima kelompok oleh Maslow, yakni fisiologi, rasa aman, afiliasi, harga diri dan pengembangan potensi. Didalam memenui kebutuhan hidupnya, manusia tidak bersifat instinktif tetapi semuanya berasal dari sebuah proses dari kemampuannya untuk belajar yang nantinya memperoleh ilmu untuk diturunkan kepada generasi berikutnya. Ilmu Dalam kamus besar Bahasa Indonesia memiliki arti pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Menurut Suriasumantri (2001:3) Ilmu merupakan salah satu buah pemikirian manusia dalam menjawab pertanyaan. Sementara itu, Paul Freedman dalam The Principles of Scientific Research mendefinisikan ilmu sebagai bentuk aktivitas manusia yang dengan melakukannya umat manusia memperoleh suatu pengetahuan dan senantiasa lebih lengkap dan cermat tentang alam di masa lampau, sekarang dan kemudian hari, serta suatu kemampuan untuk menyesuaikan dirinya dan mengubah lingkungannya serta mengubah sifat-sifatnya sendiri. Kesimpulan yang dapat diambil dari adanya beberapa pengertian ilmu di atas bahwa ilmu merupakan pengetahuan dari hasil pemikiran manusia yang nantinya dengan pemikiran tersebut akan membantu manusia di dalam proses kehidupannya.
Dengan ilmu yang diperoleh manusia yang tentunya dari hasil belajar akan menghasilkan sebuah kemampuan dalam menilai objek dan kejadian, yang pada akhirnya kemampuan menilai ini akan mendukung terciptanya sebuah kebudayaan yag bersifat turun-temurun. Jadi, antara ilmu dan kebudayaan memiliki hubungan yang begitu erat. Dengan ilmu manusia mampu mengetahui kebudayaan yang awalnya berupa sesuatu yang abstrak, mewujudkannya dalam bentuk prilaku, hasil karya. Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan adalah unsur dari kebudayaan.  Dapat disimpulkan bahwa ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dengan sendirinya juga merupakan salah satu unsur kebudayaan (Endang Daruni Asdi, 1991). Perkembangan ilmu tergantung dari perkembangan kebudayaan, sedangkan perkembangan ilmu dapat memberikan pengaruh pada kebudayaan. Keadaan social dan kebudayaan, saling bergantung dan saling mendukung. Disini ilmu mempunyai peran ganda, yakni :
1.     Ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung pengembangan kebudayaan
2.     Ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak bangs
            Generasi dalam suatu kelompok masyarakat haruslah pandai-pandai di dalam mengembangkan suatu kebudayaan, memilih kebudayaan mana saja yang harus dikembangkan dan yang dihilangkan. Namun, pada hakikatnya kebudayaan yang bersumber dari nilai-nilai ilahiah akan membantu manusia untuk meletakkan kebudayaan pada makna dan aplikasi yang benar.
              Dalam rangka memilih nilai-nilai budaya yang akan dikembangkan oleh manusia dari generasi ke generasi ini, Allport, Vernon dan Lindzey (1951) mengidentifikasikan enam nilai dasar dalam kebudayaan yakni, nilai teori, ekonomi, estetika, sosial, politik dan agama, dari penggolongan ini, maka masalah pertama yang dihadapi oleh pendidikan ialah menetapkan nilai-nilai budaya apa saja yang harus dikembangkan dalam diri anak kita.
Untuk menentukan nilai-nilai mana yang patut mendapat perhatian kita sekarang ini maka pertama sekali kita harus dapat memperkirakan skenario dari masyarakat kita dimasa yang akan datang. Skenario masyarakat Indonesia di masa yang akan datng tersebut memperhatikan indikator dan perkembangan yang sekarang ada, cenderung untuk mempunyai karakteristik-karakteristik seperti berikut:
a.  Memperhatikan tujuan dan strategi pembangunan nasional kita, maka masyarakat Indonesia akan beralih dari masyarakat tradisional yang plural agraris menjadi masyarakat modern yang urban dan bersifat industry.
b.  Pengembangan kebudayaan kita ditujukan kearah perwujudan peradaban yang bersifat khas berdasarkan filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia yakni Pancasila
Unsur-unsur kebudayaan seperti bahasa, kesenian, agama dan adat istiadat dari pelbagai suku bangsa di dalam wilayah nusantara hendaknya dilestarikan dan diangkat menjadi unsur-unsur kebudayaan nasional. Menurut Prof. Nugroho Notosusanto, kebudayaan nasional adalah kebudayaan daerah dan kebudayaan kesatuan. Rumusan lainnya kebudayaan nasional adalah paduan seluruh lapisan kebudayaan bangsa Indonesia, yang mencerminkan semua aspek perikehidupan bangsa. Selain itu kebudayaan nasioanl dapat juga dikatan sebagai totalitas berdasarkan aspek kerohanian bangsa dan segala sesuatu yang dihasilkan oleh manusia Indonesia sekarang. Dengan kata lain kebudayaan nasional adalah kepribadian manusia Indonesia dalam wujudnya berupa pandangan hisup, cara berpikir dan sikap terhadap pelbagai aspek kehidupan bangsa. Melihat definisi ini, dapat kita simpulkan bahwa kejadian perusakan patung di Purwakarta yang telah dijelaskan sebelumnya, terjadi hanya karena ada masalah politik yang dilapisi oleh masalah agama. Karena pada dasarnya penggunaan unsur kebudayaan, dalam hal ini wayang sudah digunakan para wali dalam penyebaran agama Islam. Selama penggunaan hanya sebatas sebagai media penyebaran agama bukan untuk disembah.
Pembangunan patung wayang di Purwakarta maupun di daerah lain sebenarnya merupakan perwujudan pelestarian budaya dang pengembangan kebudayaan nasional.